Minggu, 26 Mei 2013

Masa Penjajahan Belanda di Indonesia (Masa Pemerintahan Hindia-Belanda)


Pemerintah Hindia-Belanda (1816-1942) 

Pemerintahan kolektif itu mempunyai tugas utamanya menormalisasikan keadaan lama (Inggris) ke alam baru (Belanda). Masa peralihan hanya berlangsung dari tahun 1816-1819. Sejak runtuhnya VOC di Indonesia dan sempat diambil alih oleh pemerintahan Inggris, suasana politik dan ekonomi yang dihadapi Belanda sangat semerawut.

Masa Pemerintahan Van den Bosch
1. Penerapan System Tanam Paksa (1830-1870)

Johannes Graaf Van Den Bosch

Pengertian Cultuur Stelsel sebenarnya adalah kewajiban kepada rakyat (Jawa) untuk menanam tanaman ekspor yang laku di jual di Eropa. Menurut Van den Bosch, cultuur stelsel didasarkan atas hokum adat bahwa barang siapa yang berkuasa di sutau daerah, ia memiliki tanah dan penduduknya.

A. Latar Belakang Sistem Tanam Paksa

  • Di Eropa, Belanda terlibat dalam peperangan-peperangan pada masa kejayaan Napoleon.
  • Terjadinya Perang Kemerdekaan Belgia yang di akhiri dengan pemisahan Belgia dari Belanda tahun 1830. 
  • Terjadi Perang Dipenogoro ( 1825-1830 ) yang merupakan perlawanan rakyat jajahan termahal bagi Belanda.
  • Kas Negara kosong dan utang yang di tanggung Belanda cukup berat.Pemasukan uang dari penanaman kopi tidak banyak.
  • Kegagalan usaha mempraktikan gagasan Liberal ( 1816-1830 ) dalam mengeksploitasi tanah jajahan.
  • Van den Bosc sebagai pengusul dari Cultuur Stelsel, kemudian di angkat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.

B. Aturan-aturan Tanam Paksa

  1. Persetujuan akan diadakan dengan penduduk agar mereka menyediakan sebagian ari tanahnya untuk penanaman tanaman Ekspor yang dapat di jual di pasaran Eropa.
  2. Tanah pertanian tersebut tidak boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian yang di miliki penduduk desa.
  3. Pekerjaan yang di perlukan untuk menanam tanaman tersebut tidak boleh melebihi pekerjaan untuk menanam tanaman padi.
  4. Tanah yang disediakan penduduk tersebut bebas dari pajak tanah.
  5. Hasil dari tanaman tersebut diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda.


Di dalam praktiknya seringkali menyimpang dari ketentuan-ketentuan pokok sehingga rakyat banyak dirugikan. Penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain :

  • Dilakukan dengan cara paksaan.
  • Luas tanah harus disediakan penduduk melebihi ketentuan.
  • Pengerjaannya jauh lebih sama.
  • Pajak tanah masih tetap dikenakan.
  • Petani tidak mendapat kelebihan hasil panen.

Agar para bupati dan kepala desa menunaikan tugasnya dengan baik, pemerintah kolonial memberikan perangsang yang di sebut Cultuur Procenten.Cultuur Procenten adalah bonus dalam persentasi tertentu yang diberikan kepada para pegawai Belanda, para bupati, dan kepala desa apabial hasil produksi di suatu wilayah mencapai atau melampaui target yang dibebankan.



C. Akibat-Akibat Tanam Paksa

1. Bagi Belanda
a. Meningkatnya hasil tanaman ekspor dari negeri jajahan dan dijual Belanda di pasaran Eropa.
b. Perusahaan pelayaran Belanda yang semula kembang kempis,pada masa tanam paksa mendapat keuntungan yang besar.
c. Pabrik-pabrik gula kemudian juga dikembangkanoleh penguasa Belanda.

2. Bagi Indonesia
a. Kemiskinan dan penderitaan fisik dan mental yang berkepanjangan.
b. Beban pajak yang berat.
c. Pertanian, khususnya padi, banyak mengalami kegagalan panen.
d. Jumlah penduduk Indonesia menurun.
e. Rakyat Indonesia mulai mengenal tanaman dagang yang berorientasi ekspor.

D. Reaksi terhadap Tanam Paksa

Tanam paksa telah menimbulkan rekasi dari beberapa kalangan.Antara lain
sebagai berikut :
1. Rakyat Indonesia
2. Kaum Pengusaha ( kapitalis )
3. Kaum Humanis Belanda
    a. Baron van Hoevell 
    b. Eduard Douwes Dekker

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar